Rabu, 26 Agustus 2026

CABANG DINAS KEHUTANAN WILAYAH PACITAN DALAM UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KARHUTLA



    Kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu persoalan lingkungan yang terus menjadi perhatian di Indonesia. Kebakaran tidak hanya menyebabkan hilangnya tutupan vegetasi dan kerusakan ekosistem, tetapi juga dapat menimbulkan dampak sosial, ekonomi, kesehatan, serta mengganggu aktivitas masyarakat. Pada kondisi tertentu, kebakaran yang awalnya terjadi pada areal terbatas dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan apabila tidak segera ditangani.

    Kabupaten Pacitan memiliki wilayah yang didominasi kawasan perbukitan, hutan, lahan pertanian, dan permukiman yang tersebar. Kondisi tersebut menjadi potensi besar bagi pembangunan dan kehidupan masyarakat, tetapi pada musim kemarau juga perlu diikuti dengan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah Kabupaten Pacitan sendiri memasukkan kebakaran hutan dan lahan sebagai salah satu potensi bahaya bencana di daerah.

Pacitan dan Potensi Karhutla

    Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Pacitan harus dipandang sebagai persoalan bersama. Tantangannya bukan hanya bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana mencegah api muncul, menemukan sumber kebakaran sedini mungkin, meningkatkan kesiapan masyarakat, dan membangun sistem penanggulangan yang terpadu.



    Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan salah satu ancaman terhadap kelestarian hutan, lingkungan, dan keselamatan masyarakat. Di wilayah Kabupaten Pacitan yang memiliki kawasan hutan dan bentang alam perbukitan, upaya pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara terpadu.

    Dalam konteks tersebut, Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Pacitan memiliki posisi penting sebagai bagian dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dalam pembinaan, pengawasan, penyuluhan, pemberdayaan masyarakat, serta koordinasi pengelolaan dan perlindungan hutan. Berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 48 Tahun 2018, wilayah kerja CDK Wilayah Pacitan mencakup Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Ponorogo. Langkah langkah yang terus ditekankan adalah :

1. Membangun Kesiapsiagaan Sebelum Kebakaran

    Pencegahan merupakan langkah utama dalam pengendalian karhutla. CDK Wilayah Pacitan dapat berperan dalam mengidentifikasi kawasan yang memiliki potensi kerawanan kebakaran, terutama pada musim kemarau ketika kondisi vegetasi dan serasah hutan mengering.

   Kegiatan pemantauan, patroli, komunikasi dengan pengelola kawasan, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan potensi kebakaran dapat diketahui sedini mungkin.
    Tugas CDK juga berkaitan dengan monitoring dan evaluasi perlindungan hutan, sebagaimana tercantum dalam uraian tugas seksi Tata Kelola dan Usaha Kehutanan.

2. Memperkuat Penyuluhan kepada Masyarakat
    Salah satu kekuatan CDK Wilayah Pacitan adalah keberadaan penyuluh kehutanan yang berhubungan langsung dengan masyarakat dan kelompok masyarakat di sekitar kawasan hutan. Penyuluhan karhutla perlu diarahkan pada perubahan perilaku masyarakat, antara lain : 
  • Meningkatkan kesadaran mengenai bahaya kebakaran;
  • Mencegah penggunaan api secara tidak terkendali;
  • Mengenali kondisi lingkungan yang rawan terbakar;
  • Mendorong masyarakat segera melaporkan apabila melihat asap atau api;
  • Meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan dan keamanan kawasan hutan.


    Dengan pendekatan tersebut, penyuluhan tidak sekadar menyampaikan larangan, tetapi membangun kesadaran dan tanggung jawab masyarakat sebagai penjaga hutan.

3. Penguatan Masyarakat Peduli Api
    Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan merupakan unsur penting dalam pencegahan karhutla. Mereka memiliki pengetahuan mengenai kondisi wilayah dan dapat menjadi pihak yang cepat mengetahui apabila muncul potensi kebakaran. Karena itu, CDK Wilayah Pacitan dapat memperkuat kelembagaan masyarakat melalui pembinaan, penyuluhan, peningkatan kapasitas, dan koordinasi dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) maupun kelompok masyarakat lainnya.

4. Membangun Koordinasi Lintas Sektor
    Karhutla tidak dapat ditangani oleh satu instansi. Oleh karena itu, CDK perlu menjadi bagian dari jejaring koordinasi dengan pemerintah kabupaten, BPBD, pemadam kebakaran, TNI, Polri, Perhutani, pemerintah desa, MPA, KTH, dan unsur masyarakat.
    Penguatan masyarakat juga sejalan dengan kegiatan CDK dalam pemberdayaan masyarakat di bidang kehutanan. CDK Wilayah Pacitan secara aktif melakukan kegiatan pendampingan kelompok masyarakat dan Kelompok Tani Hutan (KTH). Hal ini menunjukkan bahwa penanggulangan karhutla membutuhkan kolaborasi antara fungsi teknis kehutanan dan unsur lapangan.

5. Respons Cepat Ketika Terjadi Kebakaran
    Ketika kebakaran terjadi di kawasan yang berkaitan dengan kewenangan kehutanan, CDK memiliki peran dalam koordinasi dan dukungan teknis sesuai tugas dan kewenangannya. Prioritasnya adalah memastikan informasi kejadian dapat segera diterima, lokasi dapat diketahui, kondisi lapangan dapat diverifikasi, dan koordinasi dengan pihak yang memiliki kapasitas penanganan dapat segera dilakukan.

6. Menghubungkan Pencegahan Karhutla dengan Pemberdayaan Masyarakat
    Pencegahan kebakaran akan lebih kuat apabila masyarakat memiliki kepentingan langsung dalam menjaga hutan. Karena itu, pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar hutan dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang. CDK Wilayah Pacitan memiliki pengalaman dalam pendampingan KTH dan kelompok masyarakat, termasuk kegiatan Kebun Bibit Rakyat (KBR) yang melibatkan kelompok tani hutan dan masyarakat di Kabupaten Pacitan. Kelompok masyarakat yang aktif mengelola kawasan secara produktif dan berkelanjutan diharapkan memiliki kesadaran yang semakin kuat untuk menjaga kawasan dari kebakaran dan kerusakan.

7. Pemantauan dan Evaluasi Perlindungan Hutan
    Pencegahan karhutla tidak berhenti setelah musim kemarau berakhir. Diperlukan evaluasi terhadap lokasi yang pernah terbakar, penyebab kejadian, efektivitas penanganan, kondisi kawasan, serta kesiapan masyarakat.
    Hasil evaluasi dapat digunakan untuk memperbaiki strategi pada tahun berikutnya. Dengan demikian, setiap kejadian karhutla menjadi bahan pembelajaran untuk meningkatkan sistem pencegahan.

8. Edukasi Karhutla Harus Dilakukan Secara Berkelanjutan

Edukasi masyarakat sebaiknya dilakukan sebelum memasuki puncak musim kemarau, bukan hanya setelah terjadi kebakaran. CDK Wilayah Pacitan dapat mengembangkan kampanye sederhana yang mudah dipahami masyarakat, misalnya :

  • Jangan Membakar Sembarangan
  • Kenali Potensi Karhutla di Sekitar Kita
  • Lihat Asap, Segera Laporkan
  • Jaga Hutan, Jaga Sumber Air, Jaga Kehidupan

Edukasi juga dapat dilakukan melalui pertemuan KTH, pemerintah desa, sekolah, kelompok masyarakat, kegiatan patroli, media sosial, dan forum koordinasi kehutanan. Peran CDK Wilayah Pacitan dalam pencegahan dan penanggulangan karhutla dapat dikelompokkan menjadi lima pilar utama :

  1. Peran Pencegahan       Identifikasi kerawanan, penyuluhan, patroli dan pembinaan masyarakat
  2. Peran Deteksi dini        Pemantauan kawasan dan koordinasi informasi kejadian
  3. Peran Kesiapsiagaan    Penguatan kapasitas masyarakat dan koordinasi lintas sektor
  4. Peran Penanggulangan         Mendukung koordinasi dan penanganan kejadian sesuai kewenangan
  5. Peran Pemulihan         Pendampingan rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat pascakebakaran

9. Membangun Sistem Berbasis Masyarakat
    Ke depan, pencegahan karhutla di Pacitan akan semakin efektif apabila dibangun sistem yang menghubungkan CDK – pemerintah desa – MPA – KTH – Perhutani – BPBD/pemadam kebakaran – TNI/Polri – masyarakat.
    Sistem tersebut dapat dimulai dari pemetaan lokasi rawan, penyusunan daftar kontak dan jalur pelaporan, patroli bersama pada musim kemarau, edukasi masyarakat, peningkatan kapasitas kelompok, hingga evaluasi setelah kejadian. Dengan demikian, CDK tidak hanya berperan ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi menjadi bagian penting dari sistem pencegahan karhutla dari hulu sampai hilir.
    Peran Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan dalam pengendalian karhutla sangat strategis, terutama dalam aspek pencegahan, perlindungan hutan, penyuluhan, pemberdayaan masyarakat, koordinasi, serta dukungan penanggulangan di lapangan. Pengalaman CDK Wilayah Pacitan dalam melakukan koordinasi dan terlibat dalam penanganan karhutla menunjukkan bahwa keberhasilan pengendalian kebakaran sangat bergantung pada sinergi berbagai pihak.

Pada akhirnya, keberhasilan pencegahan karhutla bukan hanya diukur dari berapa banyak api yang berhasil dipadamkan, tetapi dari seberapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah sebelum terjadi.

CDK Wilayah Pacitan bersama masyarakat : mencegah kebakaran, menjaga hutan, melindungi kehidupan.



Selasa, 23 Juni 2026

Melestarikan Pesisir Melalui Pembibitan yang Berkelanjutan



Kawasan pesisir Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi ekosistem mangrove sebagai benteng alami pesisir. Meskipun luasnya tidak sebesar kawasan mangrove di wilayah pantai utara Jawa, keberadaan mangrove di desa ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir.


Ekosistem mangrove di Desa Sidomulyo menjadi habitat bagi berbagai jenis biota, seperti ikan, udang, kepiting, burung, dan berbagai organisme lainnya. Kawasan ini berperan sebagai tempat mencari makan, berlindung, sekaligus tempat berkembang biak bagi banyak spesies yang mendukung produktivitas perairan pesisir. Dengan demikian, keberadaan mangrove turut memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, khususnya yang menggantungkan mata pencaharian pada sektor perikanan.
Di samping manfaat ekologis dan ekonomi, mangrove juga memiliki nilai penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Pohon mangrove mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah yang tinggi sehingga berkontribusi dalam mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Oleh karena itu, pelestarian mangrove menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan lingkungan pesisir.

Keberadaan mangrove di pesisir Desa Sidomulyo perlu terus dijaga melalui upaya konservasi, rehabilitasi, serta peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya fungsi ekosistem ini. Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait menjadi kunci untuk memastikan mangrove tetap lestari sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Dalam upayanya untuk memperbaiki kondisi hutan mangrove di wilayahnya, Kelompok Tani Hutan Wana Mulia IV Desa Sidomulyo terus berupaya membuat perbanyakan tanaman mangrove dengan cara pembibitan yang didampingi oleh Petugas Penyuluh Kehutanan wilayah setempat.

Adapun tahapan yang perlu dilakukan pembibitan manrove meliputi :
  1. Pengumpulan dan Seleksi Benih
    • Pilih Buah Matang : Cari buah atau propagul dari pohon induk yang sehat dan berusia matang (sekitar 5–10 tahun). Ciri-cirinya bervariasi sesuai jenis, seperti warna kulit yang berubah menjadi kuning/cokelat atau hipokotil yang sudah memanjang.
    • Seleksi : Pastikan buah dalam kondisi segar, tidak cacat, dan bebas dari hama atau penyakit.
  2. Persiapan Media Tanam dan Bedeng
    • Media Tanam: Gunakan campuran tanah berlumpur dan sedikit pasir yang sesuai dengan karakteristik habitat asli mangrove. Masukkan media ini ke dalam polibag.
    • Pembuatan Bedeng: Buat bedeng persemaian yang terlindung dari sinar matahari langsung (bisa menggunakan paranet) dan terpaan ombak besar.


  1. Penyemaian Benih
    • Penanaman ke Polibag: Tancapkan benih atau buah mangrove ke dalam polibag sedalam sepertiga bagian total benih.
    • Perlakuan Khusus: Untuk beberapa jenis tertentu seperti Avicennia atau Sonneratia, buah mungkin perlu direndam air tawar terlebih dahulu selama 1–2 hari sebelum disemaikan.
    • Pengaturan Air : Pastikan bedeng persemaian mendapatkan sirkulasi air pasang surut secara berkala atau disiram dengan air tawar secara rutin.


  1. Pemeliharaan Bibit
    • Penyiraman & Penyiangan: Lakukan penyiraman air tawar rutin minimal sekali sehari jika bibit tidak terjangkau pasang. Bersihkan area dari gulma, semut, atau hama lain yang mengganggu.
    • Masa Pertumbuhan: Biarkan bibit di persemaian selama 3 hingga 6 bulan sampai bibit memiliki 3–6 helai daun (atau tinggi mencapai sekitar 30-50 cm) dan sistem akar sudah kuat.
  2. Penanaman ke Lapangan (Rehabilitasi)
Jika bibit dirasa cukup kuat, lepaskan polibag dengan hati-hati saat air laut sedang surut dan tanam bibit ke area pesisir yang telah diberi ajir (penopang kayu) agar tidak mudah terbawa arus.


Pembuatan persemaian (pembibitan) mangrove yang saat ini dilaksanakan oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Mulia IV Desa Sidomulyo bertujuan untuk menghasilkan bibit berkualitas, seragam, dan memiliki tingkat kelangsungan hidup (survival rate) tinggi sebelum ditanam di kawasan pesisir. Ini menjadi langkah krusial dalam rehabilitasi lingkungan dan mitigasi bencana. 


Selasa, 28 April 2026

MENANAM HARAPAN DI GARIS PANTAI : AKSI NYATA KAMI MELINDUNGI BUMI

Hutan mangrove bukan sekadar pepohonan di tepi pantai; mereka adalah benteng pertahanan alami dan penyokong kehidupan yang luar biasa. Pohon yang akarnya “cakar ayam” ini bukan pohon biasa. Dia tentara penjaga pantai, apartemen satwa, sekaligus pabrik oksigen. 

Ini 3 alasan kenapa kita wajib gerak nanam mangrove dari sekarang :

  • Perisai Alami Terhadap Bencana Pantai. Mangrove memiliki sistem perakaran yang rapat dan kuat. Akar-akar ini berfungsi sebagai :
    • Pemecah Gelombang: Mengurangi energi gelombang laut dan mencegah abrasi atau pengikisan tanah di pesisir.
    • Akar tunjang & akar napasnya meredam energi ombak sampai 70-90%. Ombak gede yang sampai daratan tinggal sisa.
    • Jebak lumpur & pasir: Akarnya kayak saringan raksasa. Endapan numpuk, daratan malah nambah. Ini namanya sedimentasi.
    • Penahan angin & badai: Jalur hijau mangrove setebal 100 meter bisa nurunin tinggi banjir rob & lindungi desa dari angin kencang.
    • Benteng Tsunami: Dalam skala tertentu, kerapatan hutan mangrove dapat meredam kecepatan aliran air saat terjadi tsunami atau badai besar.
  • Rumah Bagi Keanekaragaman Hayati. Hutan mangrove bukan sekadar pohon. Ia merupakan habitat super lengkap bagi biota payau sebagai :
    • Tempat Pemijahan: Ikan, udang, dan kepiting menggunakan akar mangrove sebagai tempat berlindung yang aman untuk bertelur dan membesarkan anak-anaknya. 75% ikan komersial di laut tropis menghabiskan masa kecilnya di mangrove. 
    • Habitat Satwa Lain: Menjadi rumah bagi berbagai jenis burung & mamalia seperti bangau tong tong, elang laut, bekantan, monyet, kucing bakau sampai reptil yang bergantung pada kanopi dan lumpur mangrove untuk makan dan berlindung.
    • Rantai Makanan: Daun mangrove yang gugur jadi serasah. Serasah diurai jadi nutrisi untuk plankton → dimakan ikan kecil → dimakan burung, biawak, sampai nelayan
  • Paru-Paru Pesisir & Penyeimbang Iklim Dunia :

    • Penyerap Karbon Juara: Mangrove menyimpan karbon 3-5x lebih banyak per hektar dibanding hutan tropis daratan. Namanya blue carbon. Karbon itu ditimbun di lumpur selama ratusan tahun, bukan cuma di batang pohon. Jadi makin tua mangrovenya, makin besar “brankas karbon” kita.
    • Produksi Oksigen: Lewat fotosintesis, 1 hektar mangrove dewasa melepas oksigen untuk kebutuhan 2-3 orang per tahun. Mungkin terdengar kecil, tapi Indonesia punya 3,3 juta hektar mangrove – terluas di dunia. Kalau dijaga, kontribusinya ke keseimbangan O2-CO2 global jadi signifikan.
    • Penyaring Alami: Akar mangrove menyaring limbah rumah tangga, logam berat, dan sampah dari darat sebelum masuk laut. Air laut jadi lebih bersih, terumbu karang di depannya ikut sehat.
  • Manfaat Ekonomi bagi Masyarakat Lokal. Hutan mangrove yang sehat secara langsung mendukung kesejahteraan manusia :
    • Hasil Laut yang Melimpah: Ekosistem yang terjaga memastikan stok ikan bagi nelayan tetap tersedia.
    • Ekowisata: Keindahan alam mangrove seperti yang terlihat di foto Anda berpotensi menjadi destinasi wisata edukatif yang mendatangkan pendapatan bagi warga sekitar.
    • Kualitas Air: Akar mangrove menyaring polutan dan sedimen dari daratan sebelum mencapai laut, sehingga menjaga kejernihan air dan kesehatan terumbu karang.

Terus, Kita Bisa Ngapain?


Melestarikan mangrove adalah kerja kolektif yang dimulai dari kesadaran dan berlanjut ke aksi nyata. Berikut adalah langkah-langkah nyata yang bisa kita lakukan untuk melestarikan mangrove :
  • Ikut Serta dalam Aksi Penanaman


  • Menjaga Kebersihan Area Pesisir. Sampah, terutama plastik, adalah musuh utama mangrove. Sampah yang tersangkut di akar napas mangrove dapat membuat pohon "tercekik" dan mati.

    •  Mendukung Ekowisata Lokal. Hutan mangrove yang dikelola sebagai tempat wisata edukasi memberikan alasan ekonomi bagi warga lokal untuk menjaganya daripada menebangnya.


Menanam mangrove bukan kerja romantis semata. Ini investasi infrastruktur paling murah melawan krisis iklim dan abrasi. Mari terus menanam, karena satu bibit hari ini adalah harapan untuk dunia yang lebih hijau esok hari. 

"Alam tidak butuh manusia untuk bertahan hidup, tapi manusialah yang butuh alam untuk tetap hidup. Menanam mangrove adalah cara kita berterima kasih kepada bumi."





Kamis, 13 Maret 2025

PENANAMAN POHON DALAM RANGKA KEGIATAN PENGHIJAUAN LINGKUNGAN OLEH KTH ALAS VI DESA PAGEREJO KECAMATAN NGADIROJO KABUPATEN PACITAN

Penghijauan lingkungan adalah sebuah upaya untuk memperbaiki dan menjaga keseimbangan alam melalui penanaman pohon atau tanaman lainnya. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas udara, mengurangi dampak perubahan iklim, melindungi keanekaragaman hayati, dan memberikan manfaat ekologis serta sosial bagi masyarakat. Program penghijauan ini sangat penting karena membantu menyerap karbon dioksida, memperbaiki kualitas tanah, dan mencegah erosi

Beberapa manfaat dari penghijauan lingkungan antara lain:

  • Menurunkan suhu udara: Pohon dapat mengurangi efek panas kota dengan menyediakan naungan dan mengurangi pemanasan global.

  • Meningkatkan kualitas udara: Tanaman menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen yang sangat penting untuk kesehatan manusia.

  • Meningkatkan keanekaragaman hayati: Pohon dan tanaman lainnya menciptakan habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna.

  • Mengurangi erosi dan banjir: Akar pohon membantu menahan tanah dan mencegah erosi, serta mengatur aliran air.

Kegiatan Sosialisasi Penghijauan Lingkungan di Sekretariat Kelompok Tani Hutan Alas VI, Desa Pagerejo Kecamatan Ngadirojo, Kab. Pacitan dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut:
  • Pertemuan Kelompok Tani Hutan dalam rangka musyawarah Persiapan Penghijauan Lingkungan TA 2025. Kegiatan dilaksanakan di luar Kawasan Hutan Negara diselenggarakan sebagai aksi bentuk dukungan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan dengan APBD Tahun Anggaran 2025 memfasilitasi KTH untuk merehabilitasi lahan melalui Penghijauan Lingkungan TA 2025.
Sosialisasi kegiatan Penghijauan Lingkungan TA 2025
  • Adapun Materi inti Sosialisasi tentang teknis kegiatan Penghijauan Lingkungan TA 2025 disampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
  1. Spesifikasi rincian fasilitasi kegiatan;
  2. Pengecekan kelengkapan administrasi kelompok seperti rekening Kelompok dan tanda terima;
  3. Persiapan lapangan lokasi penanaman & pelaksanaan
  4. Pendokumentasian keseluruhan kegiatan
  5. Pemeliharaan dan pemantauan pertumbuhan
  6. Evaluasi Kegiatan setelah penanaman.
Penyerahan bibit tanaman Penghijauan Lingkungan

Kegiatan Penghijauan Lingkungan TA 2025 dengan pola Agroforestry dengan luas 5 Ha dengan alokasi bibit Bibit Alpukat 440 batang Bibit Petai 460 batan Bibit Jambu Air 400 batang dan pupuk organik (1300 kg). Kegiatan ini di harapkan bisa memacu kelompok dan anggotanya dalam penataan kelola kawasan serta untuk merintis usaha kelompok. 
Penanaman bibit

Saat ini sebagian besar anggota KTH mempunyai usaha budidaya ternak kambing, sehingga memanfaatkan lahan bawah tegakan hutan rakyat dengan penanaman hijauan pakan ternak. Dari kegiatan ini diharapkan memberikan manfaat secara ekonomis maupun ekologis bagi anggota KTH maupun masyarakat luas secara umum

CABANG DINAS KEHUTANAN WILAYAH PACITAN DALAM UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KARHUTLA

     Kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu persoalan lingkungan yang terus menjadi perhatian di Indonesia. Kebakaran tidak hanya me...