Kawasan pesisir Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi ekosistem mangrove sebagai benteng alami pesisir. Meskipun luasnya tidak sebesar kawasan mangrove di wilayah pantai utara Jawa, keberadaan mangrove di desa ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir.
Ekosistem mangrove di
Desa Sidomulyo menjadi habitat bagi berbagai jenis biota, seperti ikan, udang,
kepiting, burung, dan berbagai organisme lainnya. Kawasan ini berperan sebagai
tempat mencari makan, berlindung, sekaligus tempat berkembang biak bagi banyak
spesies yang mendukung produktivitas perairan pesisir. Dengan demikian,
keberadaan mangrove turut memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, khususnya
yang menggantungkan mata pencaharian pada sektor perikanan.
Di samping manfaat
ekologis dan ekonomi, mangrove juga memiliki nilai penting dalam upaya mitigasi
perubahan iklim. Pohon mangrove mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam
jumlah yang tinggi sehingga berkontribusi dalam mengurangi konsentrasi gas
rumah kaca di atmosfer. Oleh karena itu, pelestarian mangrove menjadi bagian
penting dalam menjaga ketahanan lingkungan pesisir.
Keberadaan mangrove di
pesisir Desa Sidomulyo perlu terus dijaga melalui upaya konservasi,
rehabilitasi, serta peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya fungsi
ekosistem ini. Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak
terkait menjadi kunci untuk memastikan mangrove tetap lestari sehingga
manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan
datang.
Dalam upayanya untuk
memperbaiki kondisi hutan mangrove di wilayahnya, Kelompok Tani Hutan Wana
Mulia IV Desa Sidomulyo terus berupaya membuat perbanyakan tanaman mangrove
dengan cara pembibitan yang didampingi oleh Petugas Penyuluh Kehutanan wilayah
setempat.
Adapun tahapan yang
perlu dilakukan pembibitan manrove meliputi :
- Pengumpulan dan Seleksi Benih
- Pilih Buah Matang : Cari buah atau propagul dari pohon induk yang sehat dan berusia matang (sekitar 5–10 tahun). Ciri-cirinya bervariasi sesuai jenis, seperti warna kulit yang berubah menjadi kuning/cokelat atau hipokotil yang sudah memanjang.
- Seleksi : Pastikan buah dalam kondisi segar, tidak cacat, dan bebas dari hama atau penyakit.
- Persiapan Media Tanam dan Bedeng
- Media Tanam: Gunakan campuran tanah berlumpur dan sedikit pasir yang sesuai dengan karakteristik habitat asli mangrove. Masukkan media ini ke dalam polibag.
- Pembuatan Bedeng: Buat bedeng persemaian yang terlindung dari sinar matahari langsung (bisa menggunakan paranet) dan terpaan ombak besar.
- Penyemaian Benih
- Penanaman ke Polibag: Tancapkan benih atau buah mangrove ke dalam polibag sedalam sepertiga bagian total benih.
- Perlakuan Khusus: Untuk beberapa jenis tertentu seperti Avicennia atau Sonneratia, buah mungkin perlu direndam air tawar terlebih dahulu selama 1–2 hari sebelum disemaikan.
- Pengaturan Air : Pastikan bedeng persemaian mendapatkan sirkulasi air pasang surut secara berkala atau disiram dengan air tawar secara rutin.
- Pemeliharaan Bibit
- Penyiraman & Penyiangan: Lakukan penyiraman air tawar rutin minimal sekali sehari jika bibit tidak terjangkau pasang. Bersihkan area dari gulma, semut, atau hama lain yang mengganggu.
- Masa Pertumbuhan: Biarkan bibit di persemaian selama 3 hingga 6 bulan sampai bibit memiliki 3–6 helai daun (atau tinggi mencapai sekitar 30-50 cm) dan sistem akar sudah kuat.
- Penanaman ke Lapangan (Rehabilitasi)
Jika bibit dirasa cukup kuat, lepaskan polibag dengan hati-hati saat air laut sedang surut dan tanam bibit ke area pesisir yang telah diberi ajir (penopang kayu) agar tidak mudah terbawa arus.
Pembuatan persemaian (pembibitan) mangrove yang saat ini dilaksanakan oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Mulia IV Desa Sidomulyo bertujuan untuk menghasilkan bibit berkualitas, seragam, dan memiliki tingkat kelangsungan hidup (survival rate) tinggi sebelum ditanam di kawasan pesisir. Ini menjadi langkah krusial dalam rehabilitasi lingkungan dan mitigasi bencana.


