Kamis, 27 Juli 2023

Sosialisasi Bedeng Pembibitan Swadaya CDK Wilayah Pacitan

 


Budaya bercocok tanam sudah lama dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Kebisaaan ini dilakukan salah satunya adalah untuk menjaga ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat. Selain tanah Indonesia yang sangat subur untuk ditanami komoditas pertanian, masyarakat yang tinggal di perdesaan juga lebih banyak menyandarkan kehidupannya pada lahan pertanian ini.

Bukan saja lahan pertanian tanaman pangan yang selalu diperhatikan oleh petani yaitu dengan daur panen, olah dan tanam, lahan hutan pun saat ini sudah mulai diupayakan untuk diolah dan ditanami tanaman kayu kayuan dan tanaman produktif lainnya oleh masyarakat.

Sebagai lahan kering yang produktif masyarakat saat ini juga menanami lahannya dengan tanaman yang bernilai ekonomis diantaranya sengon, gmelina, alpukat dan lain sebagainya. Tanaman ini diharapkan dapat menjadi tabungan yang dapat dimanfaatkan ketika masyarakat membutuhkan untuk keperluan hidupnya.

Program penanaman pohon yang digaungkan pemerintah, cukup tinggi direspon oleh masyarakat. Berbagai paket kegiatan yang digulirkan berupa bantuan bibit tanaman sangat dinantikan oleh masyarakat untuk bisa ditanam pada lahannya. Program seperti pembuatan Hutan Rakyat, pembuatan Kebun Bibit Rakyat maupun Kebun Bibit Desa sangat membantu ketersediaan bibit tanaman berkualitas dan baik yang dibutuhkan masyarakat.

Program yang diberikan oleh pemerintah tentu saja belum bisa sepenuhnya mencukupi kebutuhan masyarakat akan bibit tanaman, baik dari sisi jumlah maupun jenis tanaman yang sesuai dan diminati oleh masyarakat itu sendiri. Selain juga terdapat beberapa kelompok yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan yang jugamerupakan binaan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan ini.

Menyikapi akan kebutuhan bibit tanaman yang sangat besar tersebut, petugas Penyuluh Kehutanan Lapangan dalam hal ini sebagai pendamping Kelompok Tani Hutan, senantiasa memberikan sosialisasi, motivasi dan dorongan kepada masyarakat untuk dapat menyediakan bibit yang diupayakan secara mandiri.

Pembuatan persemaian secara mandiri yang saat ini dipopulerkan dalam istilah pembuatan bibit bedeng swadaya selain bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan bibit di masyarakat, juga dapat sebagai sarana edukasi dalam hal pengenalan jenis tanaman, pembuatan serta pemeliharaan bibit tanaman. Pada sektor kelola usaha, hal ini juga bisa dikembangkan sebagai sarana untuk pengembangan usaha Kelompok Tani Hutan dalam hal penjualan bibit tanaman, yang mana ketika bibit tersebut sudah memenuhi kebutuhan anggotanya bisa juga diperjualbelikan sesuai kesepakatan kelompok kepada kelompok ataupun masyarakat lain yang membutuhkannya.

Pengertian

Persemaian (nursery) adalah tempat atau areal yang diperuntukkan untuk kegiatan memproses benih (atau bahan lain dari tanaman) menjadi bibit/semai yang siap ditanam di lapangan. Kegiatan persemaian merupakan kegiatan awal di lapangan dari kegiatan penanaman hutan karena itu sangat penting dan merupakan kunci utama didalam upaya mencapai keberhasilan penanaman hutan.

Penanaman benih di lapangan dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, yang berarti harus disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Penanaman secara langsung di lapangan biasanya dilakukan apabila biji-bijian(benih) tersebut berukuran besar dan jumlah persediaannya melimpah. Meskipun ukuran benih besar tetapi kalau jumlahnya terbatas, maka benih tersebut seyogyanya disemaikan terlebih dahulu.

Sosialisasi dan kordinasi

Semua kegiatan yang akan melibatkan peran serta masyarakat dan institusi lain harus diawali dengan kegiatan sosialisasi dan kordinasi . Telah disepakati bahwa sosialisasi dan kordinasi merupakan ujung tombak yang sangat penting bagi keberhasilan sebuah kegiatan, termasuk kegiatan pembibitan.

Gb.1
Sosialisasi pembibitan tanaman swadaya pada pertemuan rutin warga

Gb. 2
Sosialisasi pembibitan tanaman swadaya pada institusi SMAN 1 Ngadirojo

Gb. 3
Sosialisasi pembibitan tanaman swadaya pada pengurus dan anggota KTH

Beberapa hal yang dapat disampaiakan dalam kegiatan sosialisasi dan kordinasi kepada pihak lain diantaranya yaitu :
  1. Penyampaian tentang pengertian, maksud dan tujuan kegiatan pembibitan;
  2. Penyampaian tentang rencana kelembagaan dalam pembangunan pembibitan (dalam hal ini KTH dan Sekolah);
  3. Penyampaian rencana pelaksanaan pembibitan;
  4. Pembahasan tentang rencana lokasi pembibitan;
  5. Mendapatkan informasi mengenai jenis tanaman yang akan dikembangkan, diantaranya tanaman multi fungsi/penghasil utama bukan kayu, tanaman penghasil kayu, maupun tanaman khas yang dapat tumbuh baik di wilayah tertentu.
Persyaratan Lokasi Lembibitan

Agar diperoleh bibit tanaman yang baik, maka lokasi pembibitan sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :
  1. Diutamakan lahan yang datar hingga landai, namun jika tidak terdapat lahan datar/landai maka areal untuk pembibitan dapat dibuat dalam bentuk teras untuk meletakkan bedeng sapih;
  2. Lokasi pembibitan dekat dengan lokasi penanaman, untuk mengurangi resiko kerusakan bibit saat pengiriman bibit dari lokasi pembibitan menuju lokasi penanaman di lapangan;
  3. Lokasi pembibitan aman dari gangguan alam (banjir, longsor dan angina) hewan ternak dan liar dan kemungkinan gangguan manusia;
  4. Lokasi pembibitan dekat dengan sumber air;
  5. Memiliki akses jalan yang baik. Akses jalan yang baik diperlukan untuk aktifitas pembibitan maupun pengantaran bibit ke lokasi penanaman.
Pelaksanaan Pembibitan

  • Pembuatan Bedeng Tabur
Bedeng tabur dibuat dengan maksud untuk mengecambahkan benih yang akan dijadikan bibit. Jumlah bak penaburan disesuaikan dengan kebutuhan. Cara pembuatan bedeng tabur meliputi :
  1. Dibuat dengan ukuran 2 x 1 m atau 5 x 1 m atau sesuai keperluan. Arah bedeng tabur Utara – Selatan. Tanahnya dicangkul dan digemburkan sampai halus dan ringan sambil dibersihkan dari akar dan batu-batuan;
  2. Pinggiran diperkuat atau dibatasi dengan bambu dan permukaan bedengan ditinggikan 10-15 cm dari permukaan tanah;
  3. Di atas diberi media tabur setebal 10 cm yang terdiri dari pasir dan topsoil hasil ayakan yang disterilkan dengan perbandingan 1:1 atau dengan topsoil saja;
  4. Bedeng tabur diberi naungan dengan rumbia/alang-alang, atau daun kelapa.
  • Pembuatan Media Semai
Tanah merupakan salah satu komponen tempat tumbuh tanaman. Media tumbuh semai memerlukan persyaratan sebagai berikut :
  1. Porositas dan drainase baik;
  2. Bebas dari batu dan kerikil;
  3. pH 5 – 7;
  4. Tidak merupakan tanah liat;
  5. Banyak mengandung unsur hara.
Pada dasarnya tanah atau medium tumbuh yang lain untuk medium sapihan dipilih yang baik, bebas batu, kerikil dan benda – benda lain, sehingga tidak mengganggu pertumbuhan benih yang dikecambahkan maupun pertumbuhan semai hasil sapihan. Benda-benda keras yang dimaksud antara lain  kerikil, atau batu. kemungkinan adanya jamur. Dalam usaha untuk memacu pertumbuhan semai hasil sapihan, akhir-akhir ini banyak dilakukan pemberian pupuk yaitu dengan dicampur tanah yang telah dipilih untuk medium sapih. Pekerjaan ini dilakukan dengan cara mencampur pupuk dan tanah sampai merata (diaduk) baru setelah itu diisikan kekantong plastik yang telah disiapkan. Perbandingan pupuk kandang dengan tanah yaitu  1 : 2, sedang bila menggunakan pupuk TSP bisaanya digunakan  dosis 4 – 5 gram setiap kantong plastik. Untuk jenis-jenis tanaman tertentu seperti meranti dan pinus media sapih berupa tanah dan pupuk juga dicampur dengan mikoriza.
  • Pengadaan dan Persiapan Media
Kriteria umum media untuk produksi bibit :
  1. Aerasi baik;
  2. Dapat  menjaga kelembaban;
  3. Dapat menahan berdirinya bibit;
  4. Dapat mendukung perkembangan akar.
Begitulah sedikit hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan awal pembuatan pembibitan secara swadaya. Diharapkan dengan kegiatan ini masyarakat lebih bisa mengupayakan dan berupaya secara mandiri dalam usaha turut menjaga kelestarian alam

Salam lestari…..❤

Senin, 19 Juni 2023

“Pellet kayu” si pengganti batubara Potensial dikembangkan di Kabupaten Pacitan

 Semakin hari persediaan bahan bakar batu bara kita semakin terkuras, maka dari itu tidak ada salahnya untuk mulai beralih ke bahan bakar yang renewable energy, contohnya wood pellet/pellet kayu.

Pelet kayu termasuk ke dalam energi terbarukan dalam pemanfaatan biomassa. Merupakan salah satu jenis bahan bakar alternatif terbarukan yang lebih ramah lingkungan, bentuknya hampir mirip dengan briket kayu, namun ukuran dan bahan perekatnya berbeda. Wood pellet atau pelet kayu ini memiliki banyak sekali manfaat antara lain memenuhi berbagai macam kebutuhan, baik kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan industri dan perusahaan.


Manager Operasional PLTU Sudimoro, Wisnu Cahyadi mengatakan, pihaknya akan menerapkan teknologi co-firing di pembangkit PLTU Sudimoro.“Penggunaan teknologi co-firing di PLTU merupakan salah satu upaya kami, dalam mengurangi emisi di sektor kelistrikan. Disamping menambah pembangkit baru yang berasal dari energi baru terbarukan,” ujarnya dalam perbincangan dengan kami di kantornya Senin(19/06). Wisnu juga menjelaskan, pembangkit-pembangkit tersebut memanfaatkan limbah serbuk kayu hingga sampah sebagai pengganti batu bara untuk bahan bakar.

Penggunaan pelet kayu sebagai bahan bakar tidak menghasilkan asap maupun CO2 sehingga dianggap sangat ramah lingkungan, harganya pun terjangkau. Jika dibandingkan dengan gas LPG yang memiliki harga yang mahal serta menghasilkan CO2 yang tidak ramah lingkungan,  pelet kayu jauh lebih unggul. Pelet kayu memiliki sifat yang sama seperti kayu bakar yakni ketika tidak digunakan dapat dipadamkan terlebih dahulu dan dapat dihidupkan kembali ketika dibutuhkan. Walaupun memiliki karakter seperti kayu bakar, kandungan kalori pelet kayu setingkat dengan batu bara, ini dikarenakan pelet kayu telah melewati fase pengeringan yang berguna dalam menghilangkan kadar air kayunya.

Pelet kayu diatur dalam satu paket bersama kompor atau burner untuk digunakan di rumah tangga. Pelet kayu dapat disebut sebagai carbon neutral karena dianggap tidak menambah emisi CO2 ke atmosfer. Hal tersebut dikarenakan Wood Pellet berasal dari pepohonan yang telah menyerap lebih banyak CO2 daripada membuangnya.  Emisi CO2 dari pelet kayu sekitar sepuluh kali lebih rendah dibandingkan dengan batu bara dan bahan bakar minyak, serta delapan kali lebih rendah daripada gas. Dengan keunggulan tersebut pelet kayu jauh lebih bermanfaat dibandingkan bahan bakar lainya, seperti kayu bakar, gas maupun batu bara sendiri. 

Beberapa keuntungan lain dalam pemakain pelet kayu di dalam rumah tangga sebagai berikut:

  • Hemat kayu, dengan menggunakan ini pemakaian kayu menjadi lebih sedikit
  • Hemat biaya, mengurangi biaya yang biasanya digunakan untuk membeli gas LPG
  • Nyaman, tidak terdapat asap dalam pemakaian pelet kayu
  • Bersih, jika dibandingkan dengan LPG atau kayu bakar yang menyebabkan dinding dapur menghitam
  • Sehat, mengurangi emisi CO2
  • Aman, tidak ada resiko meledak dalam pemakaian pelet kayu

Menurut Wisnu, teknologi co-firing yang dilakukan oleh PLN tak hanya sekedar mengurangi emisi, tetapi juga memberdayakan masyarakat karena program itu bisa mengajak masyarakat ikut terlibat aktif dalam penanaman tanaman biomassa. Teknologi ini bukan hanya sekedar pengurangan emisi, tetapi ada unsur ekonomi sirkular yang mengolah limbah menjadi sesuatu yang lebih bernilai dan meningkatkan efisiensi,” jelasnya.




Mendapatkan kenyataan banyaknya limbah serbuk gergajian yang terbuang begitu saja di wilayah kerja Penyuluh kehutanan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan, selanjutnya dapat menjadikan penggerak dalam sosialisasi kepada masyarakat maupun para pelaku usaha pengolahan kayu agar bisa memanfaatkan peluang dan informasi ini untuk memberikan nilai tambah secara ekonomi(economic sircular) maupun keseimbangan bahan baku batubara sekaligus keberlanjutan produksi industri pengolahan kayu di Kabupaten Pacitan ini.

Harapannya selain ketersediaan bahan baku industri kayu yang lestari di Kabupaten Pacitan ini, terbangung system industri yang terus berputar secara positif, sehingga tidak banyak bahan produktif yang tidak termanfaatkan dengan baik, sekaligus dapat sebagai peluang usaha baru bukan…?? 


Salam lestari....


Jumat, 26 Mei 2023

MANFAATKAN KALIANDRA SEBAGAI ENERGI RAMAH LINGKUNGAN

 


Tanaman Kaliandra yang dalam bahasa Latin desebut dengan Calliandra calothyrsus merupakan tanaman yang mudah tumbuh liar atau semak yang biasa kita temui di daerah sekitar hutan maupun lereng-lereng bukit di kawasan Indonesia. Berdasarkan klasifikasinya kaliandra termasuk kelompok plantae, family fabaceae yang lebih mudah tumbuh di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi hingga 1500 m dari permukaan laut. Tanaman Kaliandra memiliki keunggulan karena dapat tumbuh dengan baik pada musim kemarau walaupun pertumbuhannya tidak sebagus jika di tanam pada musim hujan.

Lingkungan tumbuh tanaman kaliandra cukup banyak tetapi tanaman kaliandra tidak dapat tumbuh di daerah rawa. Dengan sifatnya yang mudah tumbuh maka tanaman ini dapat digunakan sebagai penahan erosi tanah dan air, karena memiliki akar yang berbintil. Tanaman ini juga dapat digunakan untuk mengurangi pertumbuhan tanaman gulma terutama jika ditanam pada tanah yang kurang produktif.

Manfaat Tanaman Kaliandra
Tumbuhan Kaliandra memiliki sangat banyak jenisnya karena setidaknya terdapat sekitar 200 jenis kaliandra. Di Indonesia, kita banyak mengenai kaliandra bunga merah (Calliandra calothyrsus) dan kaliandra bunga putih (zapoteca) yang banyak digunakan sebagai tanaman penghijauan dan pakan ternak. Selain sebagai tanaman penghijauan tanaman ini juga memiliki kegunaan lain karena batang pohonnya terutama kaliandra bunga merah dapat digunakan sebagai penghasil energi sebagai bahan bakar alternatif pengganti batubara.

Tanaman Kaliandra itu merupakan tanaman perdu yang mempunyai batang berkayu, bertajuk lebat, dapat mencapai tinggi hingga 45 meter dan mempunyai perakaran yang dalam hingga 1,5 meter sampai 2 meter.

Tanaman itu juga mampu tumbuh di semua jenis tanah, tahan pangkasan, cepat bersemi dan lebat. Sistem perakaran tanaman Kaliandra dapat membentuk bintil akar, bintil akar ini dapat menyerap nitrogen dan menjadikan tanah subur.

Salah satu jenis Kaliandra yang paling dikenal adalah jenis Kaliandra bunga merah (calliandra calothyrsus). Tanaman Kaliandra dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki tanah dan di tanam di lereng yang curam sebagai penahan erosi.


"Potensi tanaman Kaliandra ini sangat besar. Selain sebagai sumber energi, juga bisa menjadi sumber pendapatan masyarakat," kata Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan, di Desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan.

Tidak hanya itu menurutnya, daun tanaman Kaliandra juga sangat baik untuk ternak hewan karena mengandung protein yang tinggi hingga bagus untuk meningkatkan produktifitas hewan ternak. Kayunya juga bisa digunakan untuk kayu bakar, namun uniknya tidak mengeluarkan asap saat dibakar.

Mendampingi tim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berkantor di Jogjakarta, Wardoyo, S.Hut. MM selaku kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan juga mendorong masyarakat untuk memanfaatkan hutan sebagai lumbung energi dengan menanam tanaman Kaliandra yang memiliki potensi jadi bahan bakar ramah lingkungan.

Kunjungan tim riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kali ini bertujuan untuk meneliti tanaman kaliandra yang tumbuh di daerah dataran rendah. Kedepannya selain bisanya tumbuh di dataran tinggi maupun perbukitan harapannya tanaman kaliandra dapat di budidayakan di dataran rendah yang mana sangat memungkinkan untuk di tanam di area sekitar kebun/pekarangan, maupun sebagai tanaman pengendali erosi di bibir sungai.

Yang terpenting menurutnya, kayu Kaliandra memiliki berat jenis antara 0,5 - 0,8 dan dapat menghasilkan panas sebanyak 4200 kkal/kilogram sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku pelet kayu. Pelet kayu adalah bahan bakar berbasis biomassa yang lebih ramah lingkungan dari batu bara. "Jadi masyarakat dapat menjadikan tanaman Kaliandra ini sebagai pundi-pundi uang," katanya.

Bibit kaliandra dapat diperoleh dengan mendapatkan bibit unggul atau dengan memotong-motong tanaman kaliandra yang sudah tua dan sehat dengan ukuran panjang kurang lebih 20-30 cm. Sementara itu proses tanam kaliandra hanya dengan cara menancapkannya pada tanah tanpa harus menggemburkan tanah terlebih dahulu. Panen tanaman Kaliandra untuk daun dan buah bisa dilakukan setelah masa tahun mencapai satu tahun.


Adapun kelompok tani dan pelaku UMKM sebagai pihak yang menanam, merawat, memanen, mencacah dan menjual hasil panen ke pihak ketiga. Hasil panen kayu kaliandra merah nantinya akan dimanfaatkan sebagai sumber energi ramah lingkungan. Pengetahuan baru ini diharapkan dapat menciptakan ekonomi sirkular yang mendatangkan banyak manfaat bagi banyak pihak.



SALAM INOVASI

HUTAN LESTARI, MASYARAKAT SEJAHTERA....👍👍






Rabu, 26 April 2023

STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI GULA AREN DI DESA WONOSOBO, KECAMATAN NGADIROJO, KABUPATEN PACITAN

Pengembangan ekonomi lokal dapat dicapai dari berbagai sektor, salah satu sektor yang umum dijumpai di pedesaan adalah sektor pertanian. Industri gula aren merupakan perwujudan dari hasil produksi sektor pertanian. Industri gula aren selama ini menjadi salah satu sumber mata pencaharian utama bagi para petani di Desa Wonosobo Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan. Keberadan agroindustri di daerah pedesaan berperan sebagai tambahan dalam membangun perekonomian masyarakat melalui pemanfatan sumber daya yang ada dengan menggunakan alat dan metode yang bersifat sederhana. Agroindustri cenderung ditemukan di daerah pedesaan yang berada dekat dengan bahan mentah yang merupakan hasil pertanian untuk kemudian menjadi bahan baku dari industri tersebut. Agroindustri pengolahan hasil dari tanaman aren merupakan salah satu agroindustri potensial untuk dikembangkan.


Gula aren memiliki potensi untuk menjadi komoditas substitusi gula pasir dalam negeri selain berperan untuk menekan ketergantungan terhadap impor gula. Produksi gula aren memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan, namun potensi tersebut belum dimanfaatkan dengan maksimal. Tanaman aren di Indonesia sudah berlangsung lama pemanfaatannya, namun untuk menjadi komoditas agroindustri agak lama perkembangannya karena sebagian besar tanaman aren yang diusahakan merupakan tanaman yang tumbuh secara alami atau belum dibudidayakan.


Desa Wonosobo dan dua desa di sekitarnya yaitu Desa Wonokarto dan Desa Wonoasri merupakan salah satu daerah potensial dalam memproduksi olahan aren. Namun, para petani aren di Desa Wonosobo belum menjadikan tanaman aren sebagai komoditi unggulan. Tanaman aren masih diolah dengan cara tradisional dan masih mengandalkan bibit dari pohon aren yang tumbuh secara alami di kebun. Tanaman aren yang paling umum dikembangkan adalah air nira yang kemudian diolah menjadi produk gula aren dan memiliki jangkauan pemasaran yang luas sehingga permintaan pasar sangat tinggi, akan tetapi hasil produksinya masih belum mampu memenuhi permintaan pasar karena kurangnya minat masyarakat untuk mau mengelolanya diakibatkan berbagai macam faktor.

Gb. 1 Nira (bahan baku gula aren)

Pengembangan industri gula aren selain dapat meningkatkan pendapatan bagi pelaku usaha, juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan secara otomatis bagi siapa saja dan mampu mengurangi tingkat pengangguran. Namun masukan ilmu dan teknologi pada industri gula aren ini masih sangat minim. Strategi pengembangan industri gula aren harus menyesuaikan dengan kekhasan dan permasalahan masing-masing industri, strategi pengembangan akan berpengaru dalam upaya menjaga daya saing dan kelangsungan usaha agar dapat memberikan kontribusi bagi perekonomian keluarga.
Gb. 2 Gula aren yang baru diproses

Gb. 3. Gula aren yang siap dipasarkan


Proses pembangunan industri dengan menggunakan suatu strategi yang diarahkan guna mendongkrak proses transformasi sektor agraris menuju sektor industri melalui growth centre, sekaligus memposisikan industri sebagai leading sektor. Industri kecil dianggap mampu untuk menjadi bagian dari industri yang memiliki potensi untuk lebih dikembangkan. Industri kecil berperan dalam upaya meningkatkan jumlah pendapatan, memperluas kesempatan kerja, adanya peluang dalam kesempatan membangun usaha dan mengatasi masalah kemiskinan. Beberapa alasan kuat yang menjadi dasar dari pentingnya peran industri kecil dan industri rumah tangga dalam kegiatan perekonomian masyarakat, antara lain: 
1)      Sebagian besar industri kecil dan industri rumah tangga berada di pedesaan, jika ada kondisi nyata bahwa luas lahan pertanian  berkurang,  industri kecil dan industri rumah tangga  di  pedesaan dapat menerima pekerja dari daerah yang sama. 
2)       Kegiatan industri kecil dan industri rumah tangga menggunakan bahan baku yang diperoleh dari sumber daya lokal, sehingga mengurangi biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi 
3)      Dengan tingkat pendapatan yang cenderung rendah serta harga produk dari industri kecil dan industri rumah tangga yang relatif murah, maka akan dapat memberikan peluang untuk tetap bertahan. 
4)   Industri kecil dan industri rumah tangga tetap memiliki permintaan yang berasal dari konsumen terhadap produk yang diproduksi tidak secara besar-besaran.

Ruang lingkup pemasaran dalam memasarkan produk gula aren oleh para pengrajin gula aren di Desa Wonosobo adalah pasar Lorok, Pasar Sudimoro, pasar Tulakan hingga ke beberapa pasar di Kabupaten Ponorogo. Pada pasar di Desa Slahung Ponorogo terdapat produsen dan konsumen dalam jumlah cukup banyak dan keduanya bebas keluar masuk pasar. Barang yang dijualpun bersifat homogen, salah satunya adalah produk gula aren. Selain produk gula aren yang diproduksi oleh pengrajin dari Desa Wonosobo, terdapat pula produk gula aren yang merupakan hasil produksi dari desa lain seperti Desa Wonokarto, Wonoasri dan Desa Nogosari Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan.

Kerangka Konseptual

Industri gula aren di Desa Wonosobo menjadi suatu sektor potensial dalam memperbaiki ekonomi masyarakat. Dalam mengembangkan industri gula aren di Desa Wonosobo perlu dilakukan analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dengan tujuan mengetahui strategi seperti apa yang dapat digunakan dalam pengembangan industri gula aren di Desa Wonosobo. Untuk mempermudah dalam menggambarkan kerangka pemikiran, dibuatlah sebuah skema dengan harapan dapat memberikan gambaran secara menyeluruh terhadap potensi usaha gula aren agar lebih jelas dan terarah.

Penjelasan strategi pengembangan industri kecil gula aren yang perlu diperhatikan di Desa Wonosobo Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan yaitu:

  1. Kekuatan : Kekuatan yaitu mencakup kekuatan internal yang mendorong pengembangan usaha. Kekuatan yang dimiliki oleh pengrajin gula aren di Wonosobo  diantaranya yaitu:

-          Ketersediaan bahan baku

-          Cita rasa

-          Mutu dan kualitas terjaga

-          Pemasaran tidak sulit

-          Harga

-          Hubungan dengan pemasok baik 

  1. Kelemahan : Kelemahan mencakup kelemahan internal yang dapat berpengaruh terhadap pengembangan industri gula aren. Kelemahan internal pada industri gula aren di Desa Wonosobo meliputi :

-          Tenaga kerja keluarga

-          Sistem produksi sederhana

-          Bahan baku produksi bersifat musiman

-          Kurangnya promosi

-          Penanganan bahan kurang optimal

  1. Peluang : Peluang dapat dimanfaatkan oleh industri kecil untuk meningkatkan usaha. Peluang yang dimiliki oleh industri terdiri dari:

-          Meningkatkan kondisi perekonomian masyarakat

-          Permintaan konsumen yang cenderung meningkat

-          Potensi pasar cukup besar

-          Ketersediaan lahan dan bahan baku

-          Membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar

  1. Ancaman : Ancaman merupakan faktor eksternal yang dapat menghambat kelancaran pengembangan usaha. Ancaman yang dihadapi oleh industri kecil gula aren di Desa Wonosobo yaitu :

-          Kurangnya bimbingan dan pembinaan usaha intensif dari pemerintah daerah

-          Pengaruh musim

-          Penurunan jumlah produksi

-          Munculnya pesaing dengan mutu produksi dan daya jangkau pemasaran luas

-      Adanya produk yang sama di daerah lain


Gb. 4 Bentuk gula aren yang dimodifikasi 

    
Gb. 5 Kemasan yang diperbarui

Dengan mengamati beberapa faktor tersebut diatas sangat diperlukan pendampingan dari Penyuluh Kehutanan setempat untuk mengadakan pendampingan dan sosialisasi bagi pengembangan usaha gula aren di Desa Wonosobo dan sekitarnya. Upaya ini sangat penting dilaksanakan agar dapat meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat serta menjaga kelestarian hutan dan lahan.





SALAM LESTARI....
HUTAN LESTARI MASYARAKAT SEJAHTERA....💪💪👍

Rabu, 29 Maret 2023

PERINGATAN HARI DESA ASRI NUSANTARA DI KECAMATAN NGADIROJO KABUPATEN PACITAN PROVINSI JAWA TIMUR

Hari Desa ASRI Nusantara adalah hari yang ditetapkan oleh Kementerian Desa PDTT melalui Keputusan Menteri Desa PDTT Nomor 110 Tahun 2022 tentang Hari Desa, untuk mengingatkan kita tentang pentingya lingkungan desa yang ASRI (Aman, Sehat, Rindang, Indah)

Sebagai tindak lanjut surat dari Direktorat jenderal Pembangunan Desa dan Pedesaan Kementrian Desa, Pembangunan Daerah tertinggal dan Transmigrasi Nomor 39/PDP.02.04/II/2023 tanggal 17 Februari 2023 perihal Surat Himbauan Gerakan Penanaman Pohon Serentak di Desa di seluruh Indonesia serta dalam rangka mendukung Hari Asri Desa Nusantara Dengan Tema "Desa Menghijaukan Dunia" tujuan peringatan ini adalah meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap perubahan iklim, mewujudkan desa asri yang bersih, hijau dan jauh dari pencemaran lingkungan serta mengurangi risiko bencana di Desa. Peringatan Hari Desa ASRI Nusantara memiliki beberapa tujuan, yakni:

  1. Meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap perubahan iklim
  2. Mewujudkan desa Asri yang bersih, hijau, dan jauh dari pencemaran lingkungan
  3. Mengurangi resiko bencana di desa

Sebagai bagian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan Aksi penanaman pohon serentak pada Rabu 15 Maret 2023 diselenggarakan di Telaga Klathak Desa Hadiluwih, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan. Diikuti oleh segenap Forkopimca Kecamatan Ngadirojo sekaligus mengingatkan kepada kita tentang pentingnya lingkungan Desa yang Asri. Untuk menuju Desa Asri diupayakan dengan menjaga kelestarian alam terutama pepohonan, yang banyak mempunyai fungsi, baik fungsi ekologi maupun fungsi ekonomi

Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan Wilayah Kerja Kabupaten Pacitan dalam hal ini turut pula memberikan kontribusi berupa bibit-bibit tanaman konservasi seperti bibit Trembesi, bibit Beringin, bibit Alpukat dan bibit Jambu Biji. Bibit tanaman konservasi tersebut diserahteimakan kepada pihak Kecamatan Ngadirojo yang diwakili oleh petugas Penyuluh Kehutanan setempat.

Penyerahan bibit tanaman kepada Forkopimcam Kecamatan Ngadirojo

Kegiatan penanaman pohon ini satu nafas dengan tujuan Dinas kehutanan dalam rangka perbaikan lingkungan hidup, peningkatan taraf perekonomian masyarakat desa serta terciptanya kualitas lingkungan yang lebih baik, mengingat kabupaten Pacitan memiliki topografi yang cukup beragam dimana setiap musim penghujan masih kerap dilanda bencana alam.

Pencanangan Desa Asri Nusantara seperti ini sekaligus merupakan satu rangkaian dengan peringatan Hari Bhakti Rimbawan yang selalu diperingati setiap tahunnya. Keterlibatan masyarakat tentunya senantiasa ditumbuhkan melalui upaya-upaya pembibitan tanaman kayu maupun buah-buahan baik dilaksanakan secara swadaya maupun pendanaan dari pihak desa melalui bimbingan teknis petugas Penyuluh Kehutanan setempat.



Kegiatan Penanaman pohon di Telaga Klathak Desa Hadiluwih Kecamatan Ngadirojo



Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.....💚💚💚

Jumat, 17 Februari 2023

UPAYA MENDUKUNG RINTISAN DESA WISATA DENGAN PENANAMAN BIBIT TANAMAN PRODUKTIF DI PANTAI TEBAN DESA SIDOMULYO BERSAMA KTH WANA MULIA IX

 


    Desa memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional, karena memasok hampir seluruh kebutuhan pangan nasional. Demikian pula, desa memasok kebutuhan tenaga kerja yang cukup besar di kota. Namun kehidupan di desa saat ini belum berkembang sebagaimana mestinya. Banyak penduduk desa tak lagi tertarik untuk bekerja di perdesaan.
    Desa wisata adalah komunitas atau masyarakat yang terdiri dari para penduduk suatu wilayah terbatas yang bisa saling berinteraksi secara langsung dibawah sebuah pengelolaan dan memiliki kepedulian serta kesadaran untuk berperan bersama dengan menyesuaikan keterampilan individual berbeda.  Desa wisata dibentuk untuk memberdayakan masyarakat agar dapat berperan sebagai pelaku langsung dalam upaya meningkatkan kesiapan dan kepedulian kami dalam menyikapi potensi pariwisata atau lokasi daya tarik wisata diwilayah masing-masing desa.
    Masyarakat di sebuah desa wisata memegang peranan penting sebagai subyek pelaku kegiatan-kegiatan pengembangan yang dilakukan di desa wisata dan bukan sebagai “tuan rumah yang pasif”. Pariwisata berbasis masyarakat merupakan sebuah pendekatan pemberdayaan masyarakat antara lain melalui penataan kembali lingkungan yang asri dan nyaman yang disukai wisatawan sehingga diperoleh manfaat ganda yaitu  terwujudnya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan lestarinya lingkungan desa sebagai hunian bersih, sehat, dan humanis. keadaan yang aman dan tertib sekaligus  kesadaran masyarakat dalam mewujudkan iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya pariwisata berbasis pemberdayaan masyarakat sehingga tingkat kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan melalui pembangunan kepariwisataan di desa wisata. Makin beragamnya pilihan keinginan wisatawan, kesadaran akan pelestarian lingkungan, isu pemanasan global, menjadikan para pelaku pariwisata melirik pada konsep back to nature (kembali ke alam).
    Untuk menumbuhkan minat pengunjung, sangat dibutuhkan  keterlibatan partisipasi aktif masyarakat lokal agar terjamin keberlangsungan kegiatan pariwisata di desa wisata. Dengan demikian konsep desa wisata yang menawarkan harapan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat lokal, dengan cara meningkatkan partisipasi aktif masyarakat serta mendorong  pelibatan masyarakat dalam setiap kegiatan yang ditujukan kepada pengunjung desa wisata.
    Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan bersama Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Solo berpartisipasi dalam mendukung pengembangan Desa Wisata dengan salah satunya menyalurkan sejumlah bibit tanaman produktif secara gratis kepada pemerintah Desa Sidomulyo melalui Kelompok Tani Hutannya Penanaman bibit tanaman produktif di sepanjang jalan menuju Pantai Teban Sidomulyo dilaksanakan oleh anggota KTH Wana Mulia IX.
    Dalam upayanya merehabilitasi hutan dan lahan diharapkan dapat memulihkan, mempertahankan sekaligus meningkatkan fungsi hutan dan lahan berupa peningkatan produktifitas dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan dengan penanaman bibit produktif kali ini.
    Kesesuaian lahan dan pemilihan jenis bibit tanaman produktif sangat perlu diperhatikan, karena dapat memberikan hasil tanaman yang diharapkan. Selaain itu tanaman yang tumbuh dapat terus dilestarikan untuk memperkaya plasma nutfah tanaman buah yang berada di lokasi tersebut, sekaligus mempertahankan kelestarian tanah dan air.
    Penerima kegiatan penanaman bibit tanaman produktif saat ini, yaitu KTH Wana Mulia IX berkomitmen untuk menjaga tanaman bibit produktif tersebut dengan baik, dan bersedia menyulam kembali tanaman yang mati dengan berkordinasi dengan pemerintah Desa Sidomulyo.
    Penanaman jalur wisata Pantai Teban seluas + 10 ha ini terdiri dari beberapa macam jenis yang merupakan bibit tanaman yang diusulkan oleh anggota KTH Wana Mulia IX, diantaranya : Alpukat sebanyak 600 batang, jeruk Pamelo sebanyak 200 batang dan Nangka sebanyak 500 batang.

    Sebagai kegiatan percontohan, penanaman ini dipusatkan pada tanah milik desa, dengan biaya pengelolaan dari desa. Selanjutnya masih terdapat beberapa lahan di lokasi lain yang masih merupakan tanah kas desa yang perlu mendapat perhatian selanjutnya untuk kembali ditanami bibit tanaman produktif tersebut.
    Dalam upayanya membangun rintisan Desa Wisata kali ini Desa Sidomulyo senantiasa mengharapkan bimbingan dan kordinasi dengan Dinas Kehutanan dalam hal ini adalah Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan, untuk memperoleh akses bibit yang berkualitas. Selain itu juga berupaya membuat persemaian-persemaian bibit lokal dengan menggandeng Penyuluh Kehutanan Setempat.
    



    Harapan selanjutnya adalah meningkatnya kesadaran masyarakat Desa Sidomulyo untuk lebih mengoptimalkan lahan dengan penanaman bibit tanaman produktif, karena selain dapat dimanfaatkan hasil panennya, kelestarian alam sekitarnya, sekaligus dapat dijadikan sebagai rintisan Desa Wisata.


Salam lestari...💚

CABANG DINAS KEHUTANAN WILAYAH PACITAN DALAM UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KARHUTLA

     Kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu persoalan lingkungan yang terus menjadi perhatian di Indonesia. Kebakaran tidak hanya me...